Ketika mendengar istilah aset kripto (mata uang kripto), mungkin banyak dari Anda yang membayangkan aset dengan fluktuasi harga tinggi seperti Bitcoin atau Ethereum. Namun, di dalam aset kripto terdapat jenis yang dirancang khusus agar nilainya stabil, yang disebut "stablecoin".
Stablecoin pada dasarnya mengaitkan nilainya dengan mata uang fiat seperti dolar AS atau yen Jepang, sehingga harganya cenderung tetap, misalnya 1 dolar AS = 1 USDT, atau 1 yen = 1 JPYC. Oleh karena itu, stablecoin banyak digunakan sebagai fondasi dalam perdagangan aset kripto, serta sebagai alat pembayaran dan pengiriman uang.
Hingga tahun 2026, kapitalisasi pasar stablecoin global telah mencapai sekitar 320 miliar dolar AS (sekitar 48 triliun yen), dengan USDT (Tether) dan USDC menguasai sekitar 83% pangsa pasar. Di Jepang, pada Oktober 2025, stablecoin berbasis yen pertama yang resmi diterbitkan, yaitu "JPYC", mulai beredar. Selain itu, layanan peminjaman USDC melalui SBI VC Trade juga telah dimulai, menandai dimulainya fase adopsi yang lebih masif.
Cara Kerja dan Jenis Stablecoin
Stablecoin diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan mekanisme stabilisasi harganya.
Stablecoin Beragun Fiat
Jenis yang paling umum, di mana penerbit menyimpan cadangan mata uang fiat seperti dolar AS atau yen Jepang sebagai jaminan untuk menerbitkan stablecoin. Konsepnya seperti menyimpan cadangan senilai 1 dolar untuk menerbitkan 1 USDT. Contoh utamanya adalah USDT (Tether), USDC, dan JPYC.
Stablecoin Beragun Aset Kripto
Jenis stablecoin yang diterbitkan dengan menyetorkan aset kripto sebagai agunan berlebih (over-collateralization), di mana nilai stablecoin didasarkan pada aset tersebut. Contoh utamanya adalah DAI (MakerDAO), yang diterbitkan dengan agunan aset kripto seperti Ethereum. Untuk menyerap risiko fluktuasi harga, rasio agunan biasanya ditetapkan di atas 150%.
Stablecoin Algoritmik (Tanpa Agunan)
Jenis stablecoin yang menstabilkan harga melalui penyesuaian permintaan dan penawaran menggunakan smart contract. Meskipun tidak memerlukan cadangan, jenis ini dianggap berisiko tinggi, sebagaimana terbukti dari kasus kejatuhan UST (TerraUSD) di masa lalu. Saat ini, keberadaannya di pasar relatif kecil.
Kegunaan Stablecoin
Stablecoin digunakan sebagai fondasi dalam perdagangan aset kripto dan keuangan terdesentralisasi (DeFi).

- Mata uang dasar perdagangan aset kripto: Saat membeli atau menjual Bitcoin dan altcoin di bursa, Anda dapat menukarnya terlebih dahulu ke stablecoin untuk menghindari risiko fluktuasi harga selama bertransaksi.
- Transfer dan pembayaran internasional: Stablecoin memungkinkan transfer dana lintas negara dengan biaya rendah dan cepat tanpa melalui bank, sehingga menjadi sorotan sebagai alat pengiriman uang ke luar negeri.
- Pengelolaan di DeFi (Keuangan Terdesentralisasi): Stablecoin digunakan dalam pinjaman untuk memperoleh bunga (lending) atau mendapatkan imbal hasil melalui penyediaan likuiditas.
- Sarana penyimpan nilai: Saat harga aset kripto anjlok, Anda dapat berlindung sementara ke stablecoin untuk melindungi aset.
Di Indonesia, Anda dapat membeli dan memperdagangkan stablecoin seperti USDT, USDC, dan JPYC di bursa domestik. Karena setiap bursa memiliki daftar aset dan biaya yang berbeda, pilihlah bursa yang sesuai dengan kebutuhan Anda dengan merujuk pada perbandingan bursa aset kripto.
Risiko Stablecoin
Meskipun stablecoin memiliki harga yang relatif stabil, terdapat beberapa risiko sebagai berikut:
- Risiko kredit penerbit: Untuk stablecoin yang dijamin dengan mata uang fiat, penting untuk memastikan bahwa penerbit mengelola cadangan dengan baik. Di masa lalu, terdapat kasus di mana transparansi cadangan menjadi masalah.
- Risiko deviasi dari nilai patokan (peg): Akibat fluktuasi permintaan dan penawaran pasar atau masalah pada penerbit, harga stablecoin dapat menyimpang secara signifikan dari nilai 1 dolar AS atau 1 yen.
- Risiko regulasi: Penguatan regulasi di berbagai negara dapat membatasi perdagangan dan penerbitan stablecoin. Di Jepang, regulasi terhadap penerbit stablecoin juga diperketat melalui Undang-Undang Pembayaran yang Direvisi.
- Risiko peretasan dan kontrak pintar: Untuk stablecoin yang dijamin dengan aset kripto atau berbasis algoritma, terdapat risiko peretasan yang mengeksploitasi kerentanan dalam kontrak pintar.
- Risiko kerugian modal: Jika Anda berinvestasi dalam stablecoin, penurunan harga dapat menyebabkan kerugian modal. Stablecoin berbasis algoritma khususnya dianggap memiliki risiko penurunan harga yang tinggi.
Kesimpulan
Stablecoin semakin menjadi bagian yang tak terpisahkan di pasar aset kripto. Dengan memanfaatkan stabilitas yang terkait dengan mata uang fiat, stablecoin digunakan dalam berbagai skenario seperti transaksi, pembayaran, dan DeFi. Namun, terdapat banyak hal yang perlu diwaspadai saat berinvestasi, seperti risiko kredit penerbit dan risiko regulasi.

Saat menggunakan stablecoin, disarankan untuk memahami sepenuhnya mekanisme dan risikonya, memilih bursa yang tepercaya, dan memulai dengan jumlah kecil jika diperlukan. Ketentuan pajak dan ketersediaan transaksi dapat berbeda-beda tergantung negara dan wilayah, jadi pastikan untuk memeriksa informasi terbaru.
Risiko dan Pengungkapan
Risiko: Aset kripto memiliki fluktuasi harga yang tinggi dan berpotensi mengalami kerugian modal. Artikel ini merupakan penjelasan umum berdasarkan informasi per 18 Juli 2026, dan bukan merupakan ajakan atau saran investasi, maupun rekomendasi untuk instrumen tertentu. Kelayakan transaksi dan ketentuan perpajakan berbeda-beda di setiap negara/wilayah. Sebelum menggunakan, pastikan Anda telah memeriksa peraturan di negara tempat tinggal serta ketentuan terbaru dari masing-masing bursa.
Pengungkapan Afiliasi: Artikel ini mungkin mengandung tautan iklan (afiliasi), yang memungkinkan situs kami memperoleh komisi tanpa biaya tambahan bagi pembaca. Komisi tidak memengaruhi isi penilaian.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu stablecoin?
Stablecoin adalah aset kripto yang dirancang agar nilainya stabil dengan dikaitkan pada mata uang fiat seperti dolar AS atau yen Jepang. 1 USDT setara 1 dolar, 1 JPYC setara 1 yen.
Apa saja jenis utama stablecoin?
Ada tiga jenis utama: stablecoin yang dijamin dengan mata uang fiat (USDT, USDC, JPYC), stablecoin yang dijamin dengan aset kripto (DAI), dan stablecoin algoritmik. Saat ini, stablecoin yang dijamin fiat adalah yang paling dominan.
Apa risiko stablecoin?
Risiko meliputi risiko kredit penerbit, risiko deviasi dari nilai patokan (depeg), risiko regulasi, risiko peretasan, dan risiko kehilangan modal. Stablecoin algoritmik dianggap memiliki risiko crash yang tinggi.
Stablecoin apa yang bisa dibeli di Jepang?
Di Jepang, USDT, USDC, dan JPYC tersedia di bursa utama. Pada Oktober 2025, JPYC, stablecoin yen pertama di Jepang, resmi diterbitkan.
Apakah stablecoin aman?
Harganya stabil, tetapi ada risiko kredit penerbit dan risiko regulasi. Keputusan investasi harus dilakukan dengan tanggung jawab sendiri setelah memahami risikonya.
Artikel terkait
【Minggu ke-2 Juli 2026】8 Kripto Baru yang Muncul Minggu Ini! $WTIC, $VBLN, $CASHCAT, dan Lainnya
Memperkenalkan 8 aset kripto baru yang muncul dan terdaftar pada minggu ke-2 Juli 2026, seperti $WTIC, $VBLN, $CASHCAT. Sebagian besar adalah meme coin dan token DeFi, yang tidak tersedia di bursa domestik dan berisiko tinggi. Investasi memerlukan riset yang memadai.
Cara Membeli Bitcoin [2026] Panduan Lengkap dari Buka Akun hingga Penyimpanan untuk Pemula
Panduan cara membeli Bitcoin untuk pemula. Diulas 5 langkah: buka akun, verifikasi identitas, deposit, beli, dan simpan, serta risikonya. Dilengkapi perbandingan bursa rekomendasi.
Apa Itu Altcoin? Penjelasan Lengkap Koin Utama dan Kategori yang Perlu Diperhatikan pada 2026
Penjelasan netral tentang definisi altcoin (aset kripto selain Bitcoin), kategori utama (DeFi, L1, meme coin, dll.), serta karakteristik koin-koin representatif. Juga membahas risiko dan tips memilih altcoin.
