Northmark
Crypto
5 menit membaca

Apa Itu Stablecoin? Penjelasan Mekanisme, Jenis, Cara Penggunaan, dan Risiko di Tahun 2026

Penjelasan netral dan akurat tentang mekanisme dan jenis stablecoin, koin yang bisa dibeli di Jepang, skenario penggunaan, serta risikonya. Dirangkum dengan mudah dipahami untuk pemula.

Terverifikasi fakta · Terakhir diperiksa 18 Juli 2026

Tentang keakuratan informasi: Angka dan informasi regulasi di halaman ini telah diverifikasi oleh redaksi pada July 2026 update dengan mencocokkan halaman resmi masing-masing perusahaan dan daftar otoritas regulasi. Jumlah bonus, spread, dan status regulasi dapat berubah, sehingga setiap kali diperbarui, redaksi kami memeriksa ulang sumber informasi utama. Baca pernyataan penyangkalan detail

Gambar ilustrasi tentang apa itu stablecoin? Penjelasan mekanisme, jenis, cara penggunaan, dan risiko pada tahun 2026

Ketika mendengar istilah aset kripto (mata uang kripto), mungkin banyak dari Anda yang membayangkan aset dengan fluktuasi harga tinggi seperti Bitcoin atau Ethereum. Namun, di dalam aset kripto terdapat jenis yang dirancang khusus agar nilainya stabil, yang disebut "stablecoin".

Stablecoin pada dasarnya mengaitkan nilainya dengan mata uang fiat seperti dolar AS atau yen Jepang, sehingga harganya cenderung tetap, misalnya 1 dolar AS = 1 USDT, atau 1 yen = 1 JPYC. Oleh karena itu, stablecoin banyak digunakan sebagai fondasi dalam perdagangan aset kripto, serta sebagai alat pembayaran dan pengiriman uang.

Hingga tahun 2026, kapitalisasi pasar stablecoin global telah mencapai sekitar 320 miliar dolar AS (sekitar 48 triliun yen), dengan USDT (Tether) dan USDC menguasai sekitar 83% pangsa pasar. Di Jepang, pada Oktober 2025, stablecoin berbasis yen pertama yang resmi diterbitkan, yaitu "JPYC", mulai beredar. Selain itu, layanan peminjaman USDC melalui SBI VC Trade juga telah dimulai, menandai dimulainya fase adopsi yang lebih masif.

Cara Kerja dan Jenis Stablecoin

Stablecoin diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan mekanisme stabilisasi harganya.

Stablecoin Beragun Fiat

Jenis yang paling umum, di mana penerbit menyimpan cadangan mata uang fiat seperti dolar AS atau yen Jepang sebagai jaminan untuk menerbitkan stablecoin. Konsepnya seperti menyimpan cadangan senilai 1 dolar untuk menerbitkan 1 USDT. Contoh utamanya adalah USDT (Tether), USDC, dan JPYC.

Stablecoin Beragun Aset Kripto

Jenis stablecoin yang diterbitkan dengan menyetorkan aset kripto sebagai agunan berlebih (over-collateralization), di mana nilai stablecoin didasarkan pada aset tersebut. Contoh utamanya adalah DAI (MakerDAO), yang diterbitkan dengan agunan aset kripto seperti Ethereum. Untuk menyerap risiko fluktuasi harga, rasio agunan biasanya ditetapkan di atas 150%.

Stablecoin Algoritmik (Tanpa Agunan)

Jenis stablecoin yang menstabilkan harga melalui penyesuaian permintaan dan penawaran menggunakan smart contract. Meskipun tidak memerlukan cadangan, jenis ini dianggap berisiko tinggi, sebagaimana terbukti dari kasus kejatuhan UST (TerraUSD) di masa lalu. Saat ini, keberadaannya di pasar relatif kecil.

Kegunaan Stablecoin

Stablecoin digunakan sebagai fondasi dalam perdagangan aset kripto dan keuangan terdesentralisasi (DeFi).

Ilustrasi dompet perangkat keras yang melambangkan manajemen risiko dan perlindungan aset

  • Mata uang dasar perdagangan aset kripto: Saat membeli atau menjual Bitcoin dan altcoin di bursa, Anda dapat menukarnya terlebih dahulu ke stablecoin untuk menghindari risiko fluktuasi harga selama bertransaksi.
  • Transfer dan pembayaran internasional: Stablecoin memungkinkan transfer dana lintas negara dengan biaya rendah dan cepat tanpa melalui bank, sehingga menjadi sorotan sebagai alat pengiriman uang ke luar negeri.
  • Pengelolaan di DeFi (Keuangan Terdesentralisasi): Stablecoin digunakan dalam pinjaman untuk memperoleh bunga (lending) atau mendapatkan imbal hasil melalui penyediaan likuiditas.
  • Sarana penyimpan nilai: Saat harga aset kripto anjlok, Anda dapat berlindung sementara ke stablecoin untuk melindungi aset.

Di Indonesia, Anda dapat membeli dan memperdagangkan stablecoin seperti USDT, USDC, dan JPYC di bursa domestik. Karena setiap bursa memiliki daftar aset dan biaya yang berbeda, pilihlah bursa yang sesuai dengan kebutuhan Anda dengan merujuk pada perbandingan bursa aset kripto.

Risiko Stablecoin

Meskipun stablecoin memiliki harga yang relatif stabil, terdapat beberapa risiko sebagai berikut:

  • Risiko kredit penerbit: Untuk stablecoin yang dijamin dengan mata uang fiat, penting untuk memastikan bahwa penerbit mengelola cadangan dengan baik. Di masa lalu, terdapat kasus di mana transparansi cadangan menjadi masalah.
  • Risiko deviasi dari nilai patokan (peg): Akibat fluktuasi permintaan dan penawaran pasar atau masalah pada penerbit, harga stablecoin dapat menyimpang secara signifikan dari nilai 1 dolar AS atau 1 yen.
  • Risiko regulasi: Penguatan regulasi di berbagai negara dapat membatasi perdagangan dan penerbitan stablecoin. Di Jepang, regulasi terhadap penerbit stablecoin juga diperketat melalui Undang-Undang Pembayaran yang Direvisi.
  • Risiko peretasan dan kontrak pintar: Untuk stablecoin yang dijamin dengan aset kripto atau berbasis algoritma, terdapat risiko peretasan yang mengeksploitasi kerentanan dalam kontrak pintar.
  • Risiko kerugian modal: Jika Anda berinvestasi dalam stablecoin, penurunan harga dapat menyebabkan kerugian modal. Stablecoin berbasis algoritma khususnya dianggap memiliki risiko penurunan harga yang tinggi.

Kesimpulan

Stablecoin semakin menjadi bagian yang tak terpisahkan di pasar aset kripto. Dengan memanfaatkan stabilitas yang terkait dengan mata uang fiat, stablecoin digunakan dalam berbagai skenario seperti transaksi, pembayaran, dan DeFi. Namun, terdapat banyak hal yang perlu diwaspadai saat berinvestasi, seperti risiko kredit penerbit dan risiko regulasi.

Ilustrasi langkah-langkah aktual untuk memulai aset kripto

Saat menggunakan stablecoin, disarankan untuk memahami sepenuhnya mekanisme dan risikonya, memilih bursa yang tepercaya, dan memulai dengan jumlah kecil jika diperlukan. Ketentuan pajak dan ketersediaan transaksi dapat berbeda-beda tergantung negara dan wilayah, jadi pastikan untuk memeriksa informasi terbaru.

Risiko dan Pengungkapan

Risiko: Aset kripto memiliki fluktuasi harga yang tinggi dan berpotensi mengalami kerugian modal. Artikel ini merupakan penjelasan umum berdasarkan informasi per 18 Juli 2026, dan bukan merupakan ajakan atau saran investasi, maupun rekomendasi untuk instrumen tertentu. Kelayakan transaksi dan ketentuan perpajakan berbeda-beda di setiap negara/wilayah. Sebelum menggunakan, pastikan Anda telah memeriksa peraturan di negara tempat tinggal serta ketentuan terbaru dari masing-masing bursa.

Pengungkapan Afiliasi: Artikel ini mungkin mengandung tautan iklan (afiliasi), yang memungkinkan situs kami memperoleh komisi tanpa biaya tambahan bagi pembaca. Komisi tidak memengaruhi isi penilaian.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu stablecoin?

Stablecoin adalah aset kripto yang dirancang agar nilainya stabil dengan dikaitkan pada mata uang fiat seperti dolar AS atau yen Jepang. 1 USDT setara 1 dolar, 1 JPYC setara 1 yen.

Apa saja jenis utama stablecoin?

Ada tiga jenis utama: stablecoin yang dijamin dengan mata uang fiat (USDT, USDC, JPYC), stablecoin yang dijamin dengan aset kripto (DAI), dan stablecoin algoritmik. Saat ini, stablecoin yang dijamin fiat adalah yang paling dominan.

Apa risiko stablecoin?

Risiko meliputi risiko kredit penerbit, risiko deviasi dari nilai patokan (depeg), risiko regulasi, risiko peretasan, dan risiko kehilangan modal. Stablecoin algoritmik dianggap memiliki risiko crash yang tinggi.

Stablecoin apa yang bisa dibeli di Jepang?

Di Jepang, USDT, USDC, dan JPYC tersedia di bursa utama. Pada Oktober 2025, JPYC, stablecoin yen pertama di Jepang, resmi diterbitkan.

Apakah stablecoin aman?

Harganya stabil, tetapi ada risiko kredit penerbit dan risiko regulasi. Keputusan investasi harus dilakukan dengan tanggung jawab sendiri setelah memahami risikonya.

Tag
#stablecoin#kripto#USDT#USDC#JPYC#DeFi#risiko#2026

Artikel terkait